CICIN DAN AIR MATA




 


oleh: KANIENSA DABITAN

Namanya Riska. Perempuan yang datang tanpa rencana, tapi berhasil tinggal di hati yang sudah lama sepi. Rizal mengenalnya tanpa ekspektasi, hanya sebatas teman biasa. Tapi hari demi hari, perhatian Riska jadi candu. Senyumnya jadi alasan semangat. Sapanya jadi penenang setelah lelah.


Rizal bukan orang kaya. Bukan pula laki-laki sempurna. Tapi dia tahu caranya mencintai dengan sabar. Ia hadir, tanpa pernah diminta. Ia bertahan, walau hanya dianggap teman. Setiap malam, namanya tak pernah absen dari doa. Ia percaya, jika tulus terus dijaga, waktu akan berpihak padanya.


Tapi semesta punya rencana lain.


Sore itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk—singkat, tapi menghantam:


"Minggu depan aku tunangan. Doakan ya."


Rizal terdiam. Dunia seperti berhenti sejenak. Tangannya menggenggam sesuatu di saku—cincin kecil yang sudah lama ia siapkan. Bukan mahal. Tapi penuh harap.


Air matanya jatuh. Bukan karena lemah. Tapi karena luka itu terlalu dalam.


"Kenapa harus aku? Kenapa harus kenal kalau ujungnya cuma ditinggal?"


Sejak hari itu, semangatnya redup. Setiap kenangan tentang Riska datang seperti gelombang—tak bisa dihindari, hanya bisa diterima. Kadang ia senyum sendiri, kadang jatuh dalam rindu yang tak punya tujuan.


Ia mulai bertanya-tanya, "Apa semua perempuan sama?"


Tapi jauh di dalam hatinya, Rizal tahu... bukan tentang siapa yang menyakitinya, tapi tentang bagaimana ia tetap bisa mencintai dengan cara yang baik, walaupun hatinya tak pernah dijaga.


Dan cincin itu? Masih tersimpan rapi. Bersama air mata yang tak pernah ditunjukkan pada siapa-siapa.


Malam demi malam, Rizal kembali membuka pesan-pesan lama. Percakapan ringan tentang hari-hari, candaan kecil yang dulu membuatnya tersenyum, kini hanya menyisakan perih. Di salah satu pesan, Riska pernah bilang:


"Enak ya punya temen kayak kamu. Selalu ada."

Dan Rizal membalas dengan hati yang ia tahan-tahan, "Iya, semoga kamu nggak bosan sama aku."

Padahal dalam hati, dia berharap: semoga kamu suatu hari sadar... aku bukan cuma teman.


Rizal ingat betul, pernah satu malam Riska cerita capek, habis dimarahin di kantor. Tanpa pikir panjang, Rizal langsung kirim pesan suara, nyanyiin lagu pelan-pelan, walau suaranya pas-pasan. Dia cuma pengen Riska tenang. Bukan biar dianggap romantis, tapi karena dia tulus.


Semua effort itu... sekarang terasa sia-sia.


Rizal duduk di teras rumahnya malam itu, langit gelap, bintang pun enggan muncul. Tangannya masih menggenggam kotak kecil berbalut kain beludru hitam. Di dalamnya, cincin perak polos—sederhana, tapi penuh cerita.


“Harusnya ini buat kamu, Siska… eh, Riska,” lirihnya, tercekat.


Ia menatap langit, mencoba menyalahkan semesta. Tapi hatinya sendiri menolak. “Apa aku terlalu berharap? Atau terlalu buta buat sadar kalau dari awal aku cuma cadangan?”


Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini, tak ada upaya untuk menyeka.


Kadang Rizal ingin marah. Tapi lebih banyak diam. Ingin melupakan, tapi kenangan terlalu manis. Ingin move on, tapi setiap lagu, setiap sudut kota, semua masih tentang Riska.


Dan di antara diam itu, Rizal akhirnya mengerti...


Terkadang, mencintai seseorang sepenuh hati tak pernah menjamin kau akan dicintai kembali.


Seminggu berlalu sejak pesan itu datang. Hari di mana Riska resmi bertunangan. Tak ada lagi notifikasi darinya, tak ada sapaan manis, bahkan ucapan “jaga diri” pun sudah hilang seperti angin.


Rizal berdiri di tepi jembatan kecil dekat taman favorit mereka dulu. Tempat di mana ia pernah menunggu, pernah berharap, dan pernah berdoa diam-diam agar suatu hari bisa menggenggam tangan Riska, bukan hanya dalam khayalan.


Ia buka kotak kecil itu untuk terakhir kali. Cincin yang sudah terlalu lama disembunyikan dari dunia.


Pelan, ia lemparkan cincin itu ke sungai.


“Pergi… dan bawa semua harapanku bersamamu,” ucapnya, pelan namun tegas.


Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena lemah.


Itu air mata perpisahan. Bukan lagi dengan Riska. Tapi dengan harapan palsu, luka yang lama, dan dirinya yang terlalu lama menggantung di ruang yang tak pasti.


Sejak malam itu, Rizal tak lagi mencari Riska di setiap notifikasi. Ia mulai bangun pagi tanpa merasa hampa. Ia mulai belajar mencintai dirinya sendiri. Mungkin belum benar-benar sembuh, tapi setidaknya, ia tak lagi berjalan mundur.


Dan di dalam hatinya, ia tahu...


Kadang, cinta terbaik adalah yang tak pernah dimiliki.

Karena dari situlah, kita belajar: mencintai bukan soal memiliki, tapi soal memberi tanpa harus diminta kembali.


---


TAMAT

Untuk semua hati yang pernah tulus tapi tidak dipilih. Kamu tidak salah. Kamu hanya terlalu berharga untuk orang yang salah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini