PAKET CINTA DARI TIKTOK
by KANIENSA DABITAN
---
Kata Pengantar
Saat aku pertama kali membuka aplikasi TikTok itu, aku tidak pernah membayangkan bahwa sebuah live iseng akan membawa aku pada sebuah perjalanan yang mengubah cara pandangku tentang cinta. Dari percakapan singkat dengan seorang teman yang tak terduga, hingga perjalanan yang penuh harapan, tantangan, dan akhirnya rasa yang tak bisa disangkal.
Cerita ini bukan hanya tentang aku dan Dila, tapi juga tentang bagaimana kita saling belajar, saling memberi perhatian, dan saling bertumbuh meski dari dunia yang terlihat sangat jauh dan berbeda. Kadang, cinta datang tanpa kita duga, dari arah yang tak pernah kita kira.
Untuk Dila, yang telah memberikan warna baru dalam hidupku—terima kasih telah hadir dalam cerita ini. Semoga kisah ini bisa menyampaikan sedikit dari apa yang aku rasakan, dan membawa pembaca merasakan kehangatan yang pernah aku alami.
Selamat membaca,
Ucapan Terima Kasih (Acknowledgment)
Sebagian besar perjalanan dalam buku ini tak akan terwujud tanpa dukungan orang-orang terdekat. Terima kasih kepada:
Shella, yang dengan tulus mengenalkan aku pada Dila dan membuat kisah ini dimulai.
Dila, yang inspirasi dan kehadirannya memberikan warna baru dalam hidupku.
Teman-teman dan keluarga yang selalu mendukung, memberi semangat, dan menjadi inspirasi dalam hidupku.
Kepada semua yang terlibat langsung atau tidak langsung dalam kisah ini—terima kasih. Tanpa kalian, cerita ini takkan pernah terwujud.
---
Daftar Isi
1. Bab 1 — Live Selepas Magrib
2. Bab 2 — Temen Kantor yang Bikin Deg-Degan
3. Bab 3 — Percakapan yang Tak Terduga
4. Bab 4 — Cinta yang Mulai Tumbuh
5. Bab 5 — Ketika Harapan dan Takut Bertemu
6. Bab 6 — Pergulatan Hati
7. Bab 7 — Momen yang Menentukan
8. Bab 8 — Akhir yang Bahagia
---
Prolog
Sebuah aplikasi bisa jadi jembatan untuk membawa dua orang dari dunia yang terpisah, dan itu yang terjadi padaku. Tak ada yang benar-benar mempersiapkan diri untuk jatuh cinta. Terkadang, itu datang seperti angin yang menyapa tanpa peringatan. Aku dan Dila tak pernah tahu bahwa sebuah live TikTok yang tampaknya sepele, akan mengubah segalanya. Tapi, bukankah itulah yang indah dari cinta? Tak terduga dan penuh kejutan.
Epilog
Setelah semua yang terjadi, aku tahu bahwa cinta itu datang dalam bentuk yang tidak selalu kita harapkan. Mungkin dalam bentuk ketidakpastian, mungkin juga dalam bentuk yang sederhana. Tapi satu hal yang aku pelajari—ketika hati sudah menemukan jalannya, tak ada lagi yang bisa menghentikan. Aku dan Dila tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi kami sudah menemukan sesuatu yang lebih penting: saling memahami, saling percaya, dan saling menerima.
Terima kasih telah ikut merasakan perjalanan ini bersama kami.
---
Biografi Penulis
KANIENSA DABITAN adalah penulis yang memulai karier menulisnya dengan cerita-cerita sederhana yang lahir dari pengalaman sehari-hari. PAKET CINTA DARI TIKTOK adalah karya pertamanya yang dipublikasikan. Selain menulis, KANIENSA juga aktif dalam dunia digital dan senang berinteraksi dengan berbagai orang melalui berbagai platform. Cinta, persahabatan, dan harapan selalu menjadi tema utama dalam karyanya.
PAKET CINTA DARI TIKTOK
(Kisah nyata yang dibumbui harapan dan haru)
Bab 1: Awal yang Nggak Disengaja
Habis magrib, iseng aja aku buka TikTok live. Nggak niat nyari siapa-siapa, cuma pengin hiburan. Tapi nggak sengaja, jempol ini malah mecet tombol co-host. Eh, tiba-tiba nyambung sama cewek—sebut aja namanya Cilla.
Orangnya rame, ngobrolnya nyambung. Aku pikir masih single, eh ternyata…
> Cilla: "Hahaha… aku udah nikah, Mas. Anakku dua."
Aku: "Waduh, saya kira masih gadis. Mundur pelan-pelan deh."
Cilla: "Wkwk, iya nggak apa-apa. Tapi aku punya temen kantor loh."
Aku: "Serius? Yang belum punya anak kan?"
Cilla: "Iya, belum nikah malah. Namanya Dila. Mau aku kenalin?"
Aku cuma ketawa waktu itu. Tapi nggak nyangka, obrolan iseng itu jadi awal dari cerita yang nggak pernah aku bayangin sebelumnya.
Setelah dikenalin lewat Cilla, aku iseng DM cewek itu—Dila.
> Aku: "Assalamualaikum, Kak."
Dila: "Waalaikumsalam, Kak."
Obrolan berjalan pelan, standar kenalan. Aku sok pede minta WhatsApp-nya.
> Aku: "Kak, lanjut WA aja ya, biar enak ngobrolnya."
Dan… dia kasih. Langsung dong hatiku seneng banget. Gak nyangka semulus itu.
Malamnya aku chat lagi. Katanya dia lagi ngerjain tugas.
> Aku: "Ya udah, aku temenin ya. Biar gak capek sendiri."
Dila: "Iya, makasih ya."
Beberapa menit kemudian, dia kirim gambar buket bunga.
> Dila: "Mas, buket ini bagus ya?"
Aku: "Bagus banget."
Dila: "Ehm… aku pengen."
Aku: "Mau aku beliin?"
Dila: "Serius, Mas?"
Aku: "Iya, serius. Aku beliin."
Dan aku beneran beliin. Entah kenapa, baru sebulan kenal tapi rasanya nyaman banget. Sayang itu tumbuh sendiri—tanpa disuruh, tanpa dipaksa.
Waktu itu, chat kami hangat. Balasannya cepat, panggilannya mulai manja, bahkan kadang saling sayang-sayangan.
Aku pikir... mungkin ini jalannya.
Tapi hari-hari berikutnya mulai berubah. Dila yang biasanya hangat, tiba-tiba jadi dingin. Yang biasanya cepat bales, sekarang lama… bahkan kadang cuma:
> Aku: "Kamu udah makan?"
Dila: "Udah."
Aku: "Hari ini gimana?"
Dila: "Biasa aja."
Singkat. Hambar. Seolah semua yang kami bangun perlahan memudar.
Aku sempat mikir, salahku di mana? Aku selalu ada, selalu ngedukung, bahkan selalu berusaha nyenengin dia—tapi balasannya makin jauh. Aku sempat nyerah, ingin berhenti berharap. Tapi entah kenapa… aku masih bertahan.
Aku coba baikin lagi pelan-pelan. Dan dia sempat luluh. Balas lagi, walau cuma seperlunya. Aku tetap turutin semua yang dia minta. Bukan karena diminta, tapi karena aku tulus.
Sampai kemarin, pas ulang tahunnya. Dia nggak minta kado, tapi aku tetap kasih. Biar dia tahu… kalau aku benar-benar suka, sayang, dan nyaman sama dia.
Tapi sampai sekarang... dia tetap cuek
Bab 2: Bertahan di Tengah Tanda Tanya
Hari-hari setelah ulang tahunnya terasa makin sepi. Aku tetap nge-chat, tetap nyapa duluan, tetap nanya kabar meski balasannya makin pendek dan kadang... nggak dibalas sama sekali.
Jujur, aku capek. Tapi rasa penasaran masih lebih kuat dari lelahku. Aku masih nanya ke diri sendiri—dia kenapa? Apa aku terlalu cepat? Terlalu berharap? Atau dia cuma nggak ngerasa yang sama?
> Aku: "Aku ganggu ya?"
Dila: "Enggak kok."
Aku: "Tapi kok kamu berubah?"
Dila: "Nggak berubah, Mas. Lagi banyak pikiran aja."
Jawaban itu selalu jadi tameng. “Lagi banyak pikiran.” Tapi aku tahu, kalau seseorang beneran sayang, sesibuk apa pun, dia pasti sempatin. Dan Dila… kelihatannya nggak begitu.
Tapi tetap, aku bertahan. Mungkin karena aku bukan tipe yang gampang nyerah. Atau mungkin... karena aku beneran jatuh hati.
Bab 3: Harapan yang Gantung
Aku mulai terbiasa dengan balasan singkat. Mulai belajar untuk nggak terlalu berharap. Tapi di sisi lain... hati ini masih belum bisa bohong.
Ada satu malam, dia tiba-tiba nge-chat duluan.
Jantungku langsung deg-degan, kayak anak kecil dikasih permen.
> Dila: "Mas, aku capek."
Aku: "Capek kenapa?"
Dila: "Banyak hal... kerjaan, pikiran..."
Aku: "Kalo gitu, istirahat ya. Gak usah mikirin yang berat-berat. Aku di sini kok."
Malam itu kami ngobrol lagi. Nggak panjang, tapi hangat. Aku mulai punya harapan lagi. Mungkin dia cuma butuh waktu, pikirku. Mungkin dia cuma belum siap.
Tapi ternyata, keesokan harinya… kembali dingin. Seolah malam itu cuma jeda singkat dari rutinitas cueknya.
Aku mulai ngerasa kayak gantungan baju—digantung, tapi nggak pernah dipakai. Diabaikan, tapi nggak dilepas juga.
Aku cerita ke temen, katanya aku bucin. Katanya aku harus berhenti. Tapi mereka nggak tahu, yang aku perjuangkan bukan cuma cewek—tapi rasa nyaman yang nggak pernah aku dapetin sebelumnya.
Kadang aku mikir, mungkin cinta emang kayak gini. Nggak selalu soal saling, tapi soal siapa yang tetap tinggal meski digantungin.
Bab 4: Kalau Boleh Milih
Ada malam-malam di mana aku cuma stare ke layar HP, nungguin notifikasi dari dia. Kadang jam 9, kadang jam 11, kadang sampai dini hari… tetap nggak ada apa-apa.
Pernah aku coba nekat telepon.
Nggak diangkat.
Beberapa menit kemudian, dia cuma balas:
> Dila: "Maaf ya, Mas. Lagi nggak enak badan."
Aku percaya. Karena memang nggak ada yang bisa aku lakuin selain percaya.
Tapi keesokan harinya, story-nya aktif. Senyum-senyum di kafe, bareng temen-temennya. Sehat banget kelihatannya.
Sakit itu bukan karena dia bohong—tapi karena aku sadar, mungkin aku emang nggak sepenting itu buat dia.
Kalau boleh milih, aku pengen berhenti. Tapi perasaan ini keras kepala.
Dia mungkin biasa aja… tapi aku? Udah terlalu dalam.
Aku mulai sadar, cinta sepihak itu kayak lari di treadmill. Capek, ngos-ngosan, tapi nggak pernah maju ke mana-mana.
> Aku: "Aku boleh jujur?"
Dila: "Boleh."
Aku: "Aku sayang kamu."
Dila: "... makasih ya, Mas."
Makasih.
Bukan “aku juga.”
Bukan “aku tahu.”
Bukan “aku ngerasa hal yang sama.”
Tapi... “makasih.”
Kalimat yang manis—buat nutup pintu pelan-pelan.
Bab 5: Belajar Melepas, Walau Masih Sayang
Setelah “makasih” itu, aku mulai diem. Bukan karena udah nggak sayang, tapi karena sadar... mungkin memang bukan aku yang dia harapkan.
Beberapa hari aku nggak nge-chat. Bukan karena cuek, tapi karena nahan diri. Kalau dulu aku yang selalu mulai, sekarang aku tunggu... siapa tahu dia nyariin.
Tapi hasilnya? Sepi. Hening. Hampa.
Dan dari situ aku belajar, bahwa nggak semua yang kita perjuangkan, bakal berjuang balik buat kita.
> Temen: "Bro, kamu masih mikirin dia?"
Aku: "Iya."
Temen: "Tapi dia mikirin kamu nggak?"
Aku: "... mungkin nggak."
Diam itu ngajarin aku banyak hal. Tentang sabar. Tentang sadar. Tentang bedanya dicintai dan cuma dikasih harapan.
Dan meski susah, aku mulai ngebiasain diri buat nerima.
Bab 6: Cukup Aku yang Tahu
Waktu berlalu, dan aku mulai menerima kalau mungkin… cerita ini memang cuma sepotong. Bukan bab pembuka dari kisah panjang, tapi cukup jadi bab yang mengajarkanku arti kehilangan tanpa pernah benar-benar memiliki.
Setiap orang yang datang ke hidup kita, katanya, punya tujuan. Ada yang buat tinggal, ada yang buat singgah.
Dan Dila... mungkin dia datang untuk jadi pelajaran.
Pelajaran tentang harapan, tentang batas, dan tentang rasa yang harus tahu diri.
Aku nggak nyesel kenal dia. Nggak nyesel pernah sayang sedalam itu. Karena dari dia, aku tahu... ternyata aku bisa setulus ini ke seseorang. Ternyata hatiku masih bisa bergetar, meski ujungnya bukan bahagia.
> “Kalau kamu baca ini, terima kasih ya...
Sudah hadir, meski sebentar. Sudah hangatkan, meski akhirnya dingin.
Sudah bikin aku percaya cinta lagi, meski akhirnya belajar untuk rela.”
Sekarang, aku nggak nunggu chat dia lagi.
Nggak berharap notifikasinya muncul.
Nggak stalking story-nya.
Tapi bukan berarti aku benci. Bukan berarti udah lupa.
Hanya saja… aku sudah selesai.
Karena nggak semua cinta harus diumumkan.
Ada yang cukup disimpan dalam diam.
Dan kisah ini—cukup aku yang tahu betapa tulusnya perasaanku ke dia.
---
Bab 7: Menyadari yang Tak Pernah Kembali
Ada malam-malam yang terasa kosong. Kadang aku merasa, kalau aku terus-terusan mikirin Dila, aku hanya akan terjebak dalam bayang-bayang sesuatu yang nggak akan pernah terjadi. Aku sadar, aku terlalu sering nungguin hal-hal kecil yang nggak pernah datang: chat, perhatian, atau bahkan hanya kata-kata kecil dari dia.
Pernah aku pikir untuk ngirim pesan lagi. Mungkin buat nanya kabar, atau sekadar mengingatkan bahwa aku masih ada. Tapi... setiap kali aku mulai mengetik pesan itu, aku merasa aneh. Bukan karena aku nggak mau, tapi karena aku tahu... dia nggak pernah meminta itu. Aku yang masih ingin, sementara dia? Mungkin sudah memilih untuk pergi.
Temen-temen bilang aku harus berhenti. Mereka bilang aku terlalu lama di jalan yang sama, berharap sesuatu yang nggak pasti. Dan aku mulai sadar... mereka benar. Cinta yang satu arah nggak pernah adil. Perasaan yang cuma ada dari satu sisi, hanya akan berakhir dengan luka.
Aku belajar untuk mengurangi harapanku.
Aku belajar untuk berjalan tanpa harus menunggu.
Aku belajar bahwa kadang, melepaskan adalah pilihan terbaik.
Kalau nanti Dila kembali, aku nggak tahu apa yang akan aku lakukan. Tapi kalau dia nggak pernah kembali, aku yakin... aku sudah siap. Karena hidup terus berjalan, meskipun tanpa dia.
---
Bab 8: Keputusan yang Teguh
Semakin hari, aku semakin sadar bahwa ini bukan tentang Dila lagi. Ini tentang aku. Tentang bagaimana aku memilih untuk melanjutkan hidup tanpa terus menunggu kehadirannya. Aku sudah berusaha, sudah memberikan yang terbaik, tapi kadang memang hidup nggak berjalan seperti yang kita inginkan.
Ada kalanya kita harus berhenti berjuang, bukan karena kita menyerah, tapi karena kita tahu... kita sudah memberikan semua yang bisa kita beri. Dan sekarang, saatnya untuk berhenti berharap. Aku nggak bisa terus menahan perasaan ini. Aku nggak bisa terus menunggu sesuatu yang mungkin nggak akan pernah terjadi.
Aku memilih untuk melepaskan. Melepaskan perasaan ini, melepaskan harapan yang dulu tumbuh, dan melepaskan Dila, meski dengan rasa yang belum sepenuhnya hilang. Karena aku tahu, aku lebih berharga daripada terus berharap pada sesuatu yang nggak pasti.
Dan jika nanti dia kembali, mungkin aku akan siap. Tapi jika tidak, aku sudah cukup. Aku sudah selesai.
TAMAT
Komentar
Posting Komentar