Judul cerita : Bunga terakhir
Penulis Cerita : KANIENSA DABITAN
Selamat Membaca :
Davit baru saja pulang dari kantor. Hari itu terasa panjang dan berat. Ia tahu bahwa sore nanti, ia akan kembali mencoba menghubungi Dila, meskipun hatinya sudah penuh dengan keraguan. Setelah berhari-hari tidak ada kabar darinya, perasaan bingung dan cemas terus menghantui.
Davit mengingat kembali hari itu, ketika ia memberi Dila buket bunga yang ia pilih dengan hati-hati. Setiap kelopak bunga itu adalah harapan dan perasaan yang ia tanamkan dalam dirinya, berharap ini akan menjadi sebuah awal yang indah bagi hubungan mereka. Namun, kenyataannya sangat berbeda.
Begitu sampai di rumah, ia langsung duduk di depan ponselnya. Ia sudah menulis pesan untuk Dila, kata-kata yang sudah ia siapkan dengan penuh hati-hati. “Dila, aku minta maaf kalau aku ada salah dan bikin kamu nggak nyaman,” tulisnya. “Aku cuma ingin kamu tahu kalau aku bener-bener peduli.”
Davit menatap layar ponselnya, ragu apakah pesan itu akan diterima dengan baik. Namun ia akhirnya menekan tombol kirim.
Sekitar lima menit kemudian, ponselnya bergetar. Dila membalas.
“Udah ya, jangan kabarin aku lagi.”
Kata-kata itu seolah menghantam hatinya dengan keras. Seluruh tubuhnya terasa lemas, tak mampu bergerak. Ia ingin mengatakan sesuatu, mungkin untuk menjelaskan, atau mungkin untuk meminta kesempatan terakhir, tapi kata-kata itu seperti terkunci di dalam mulutnya. Ia hanya terdiam, menatap pesan balasan yang begitu singkat, tapi sangat jelas.
Davit menghela napas panjang. Apa yang salah? Mengapa semua usaha dan perhatian yang ia berikan terasa begitu sia-sia? Buket bunga yang ia pilih dengan penuh harapan kini hanya menjadi kenangan, bukan simbol cinta yang seharusnya diterima dengan hangat.
Ia merasa hatinya hancur. Kenangan indah yang sempat mereka bangun kini terasa jauh, dan Dila—yang ia anggap mungkin adalah seseorang yang tepat—ternyata tidak merasa hal yang sama.
Davit tahu, tak ada lagi yang bisa ia lakukan sekarang. Semuanya sudah berakhir, setidaknya untuk saat ini. Buket bunga itu kini ada di tangan Dila, sebagai kenangan terakhir yang mungkin akan selalu ia ingat. Namun bagi Davit, bunga itu adalah simbol dari harapan yang kini sudah mati.
Komentar
Posting Komentar