
CICIN DAN AIR MATA oleh: KANIENSA DABITAN Namanya Riska. Perempuan yang datang tanpa rencana, tapi berhasil tinggal di hati yang sudah lama sepi. Rizal mengenalnya tanpa ekspektasi, hanya sebatas teman biasa. Tapi hari demi hari, perhatian Riska jadi candu. Senyumnya jadi alasan semangat. Sapanya jadi penenang setelah lelah. Rizal bukan orang kaya. Bukan pula laki-laki sempurna. Tapi dia tahu caranya mencintai dengan sabar. Ia hadir, tanpa pernah diminta. Ia bertahan, walau hanya dianggap teman. Setiap malam, namanya tak pernah absen dari doa. Ia percaya, jika tulus terus dijaga, waktu akan berpihak padanya. Tapi semesta punya rencana lain. Sore itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk—singkat, tapi menghantam: "Minggu depan aku tunangan. Doakan ya." Rizal terdiam. Dunia seperti berhenti sejenak. Tangannya menggenggam sesuatu di saku—cincin kecil yang sudah lama ia siapkan. Bukan mahal. Tapi penuh harap. Air matanya jatuh. Bukan karena lemah. Tapi karena luka itu terla...